Home > LISTRIK, TIPS dan INFORMASI > Tagihan Bulanan Listrik Industri

Tagihan Bulanan Listrik Industri

Tagihan Bulanan Listrik Industri

 

Tagihan bulanan pemakaian listrik sangat bervariasi komponennya, karena PLN melakukan penggolongan untuk tiap penggunanya. Dari segi peruntukan misalnya, yang termasuk disini adalah rumah tangga, badan sosial, perhotelan, industri, kantor pemerintahan dan lainnya. Satu dengan lainnya berbeda kepentingannya, maka dari itu dikenakan tarif yang berbeda juga.

Dari segi sistem tegangan penyambungan listrik, dapat dikelompokan menjadi tiga : pelanggan listrik tegangan rendah (TR), tegangan menengah (TM) dan tegangan tinggi (TT). Selain itu dapat juga digolongkan berdasarkan daya terpasangnya, misalnya ada yang menggunakan daya 450 VA, 900 VA bahkan sampai 30.000 kVA. Untuk jelasnya silahkan lihat Tabel Penggolongan berdasarkan KEPPRES No. 89 Tahun 2002 tentang Harga Jual Tenaga listrik.

Apa saja sih yang harus dibayar ??

Tagihan yang harus dibayar terdiri dari :

1.       Biaya beban / abodemen

2.       Biaya pemakaian kWh

3.       Biaya kelebihan pemakaian kVArh (jika ada)

4.       Disinsentif daya dan energi (jika ada)

5.       Materai

6.       Pajak penerangan jalan (PPJ)

Selain biaya diatas ada juga biaya sewa Trafo jika kita menyewanya dari PLN.

Berikut rinciannya.

1. Biaya Beban

Biaya ini adalah biaya yang besarnya tetap, dihitung berdasarkan daya tersambung. jadi biaya beban ini dikenakan untuk tiap kVA yang diperhitungkan tiap bulannya.

Contoh : Daya terpasang adalah 5190 kVA, tarif per kVA beban berdasarkan Tabel Penggolongan Rp. 29500/kVA, maka abodemennya adalah (5190 / 1000) x Rp. 29500 = Rp. 153.105.000 per bulan.

2. Biaya Pemakaian kWh

Biaya pemakaian merupakan biaya pemakaian energi. Dihitung berdasarkan jumlah pemakaian selama satu periode (ex : 3 Juni ~ 3 Juli). Untuk pelanggan tertentu, perhitungannya dikenakan sistem blok, maksudnya untuk pemakaian sampai jumlah tertentu, yaitu 60 jam pertama mendapat tarif murah dan selebihnya dikenakan tarif yang lebih mahal.

Ada juga pelanggan yang dikenakan tarif ganda, yaitu pada saat WBP (Waktu Beban Puncak) antara jam 18.00 s/d 22.00 dikenakan tarif sebesar 2X tarif LWBP (Luar Waktu Beban Puncak). Nah biaya pemakaian ini adalah pemakaian LWBP + pemakaian WBP. Untuk golongan I3, LWBP = Rp. 439 ; WBP = Rp. 878.

3. Biaya Kelebihan Pemakaian kVArh

Untuk pelanggan tertentu seperti Badan Sosial, Hotel, Mal dan Industri dikenakan denda kelebihan kVArh, yaitu jika power factor pelanggan kurang dari 0.85 tiap bulan, yang menyebabkan nilai kVArh tinggi. PLN membatasi nilai dari kVArh yaitu tidak boleh lebih dari 0.62 dari total energi (LWBP + WBP). Untuk mudahnya dapat ditulis dengan :

kVArh yang dibayar = kVArh terpakai – (0.62 x total kWh) x harga (Untuk golongan I3 = Rp. 571)

Nah, untuk menghindari hal ini, disarankan memasang kapasitor bank untuk menghindari daya reaktif, maaf saya ralat, maksudnya mengurangi, karena industri pasti banyak menggunakan peralatan yang mempunyai beban induktif. Jadi apa itu kapasitor bank ? mmmhhh, lain waktu deh dibahas, insya Allah.

4. Dis-insentif Daya dan Energi

Untuk pelanggan B3, I2, I3, I4 dan P2 dikenakan program pembatasan pemakaian listrik WBP dengan Daya Max Plus, terhitung mulai rekening pembayaran November 2005. Batas yang dimaksud disini menurut Edaran Direksi PLN No. 0016.E/DIR/2005 adalah :

Untuk pemakaian daya

Maksimum 50% dari daya kontrak. Misalnya daya terpasang/kontrak 5190 kVA, maka batasnya adalah 2595 kVA. Jika ternyata pada bulan itu, ada saat dimana pemakaian lebih dari 2595 kVA, maka kelebihannya itulah yang harus dibayar, dikalikan dengan harga denda (untuk I3 = Rp. 69.326,5).

Rumusnya jadi (AKTUAL DAYA TERPAKAI – 2595) X Rp. 69326,5

Untuk pemakaian energi

Maksimum 50% dari pemakaian rata-rata WBP bulan Maret s/d Agustus 2005 dan bersifat tetap atau menjadi patokan (tapi kenyataannya di tempat saya adalah pemakaian rata-rata WBP bulan Mei s/d Oktober 2005), yaitu 64040 kWh.

Rumusnya jadi :

(TOTAL WBP TERPAKAI – BATAS ENERGI) x 2 x HARGA WBP

(TOTAL WBP TERPAKAI – 64040) x 878

Selain dis-insentif, PLN juga memberikan intensif jika pemakaiannya kurang dari batas daya dan energi yang ditetapkan, yaitu berupa diskon yang besarnya :

(0.5 x BATAS ENERGI x 0.25 x TARIF WBP) + (BATAS ENERGI – TOTAL WBP TERPAKAI) x 0.25 x TARIF WBP

Contoh :

(0.5 x 64040 x 0.25 x Rp. 878) + (64040 – TOTAL WBP TERPAKAI) x 0.25 x Rp. 878

Nah insentif ini dijadikan faktor pengurang untuk pembayaran (pengurang nominal biaya pemakaian kWh)

5. Materai

Ditempat saya biaya materai adalah Rp. 6000.

6. Pajak Penerangan Jalan (PPJ)

Besarnya PPJ tergantung dari peraturan daerah yang berlaku, kalau di tempat saya (Cakung, Jakarta Timur) besarnya adalah :

2.4% dari ((Abodemen + Pemakaian WBP dan LWBP + Biaya kelebihan kVArh + Dis-insentif) – Insentif)).

Pajak ini dipungut PLN dan kemudian diserahkan kepada kas PEMDA (bener ga ya ??).

Oke guyz, cu on next articles..bye.

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: