Home > OPINI > BELAJAR DARI ANAK BALITA

BELAJAR DARI ANAK BALITA

IMG00004-20100828-1728 Kemarin, saya menjemput anak saya di playgroup al fatah, perum 3 bekasi timur, kebetulan sedang jam istirahat dimana muridnya sedang asik menikmati permainan yang disediakan di depan kelas TK dan Playgroup yang membentuk liter L, ada ayunan kapasitas 4 orang disebelah timur paling ujung, sementara disebelahnya ada perosotan dan juga sangkar laba-laba. Didepan kelas anak saya ada jungkat-jungkit kapasitas 4 orang yang dijajarkan dengan ayunan, semuanya dicat dengan warna cerah. Selain itu ada juga murid yang bermain mengejar bola atau saling bercanda satu dan lainnya, sungguh suatu suasana yang benar-benar lepas tanpa beban.

Diantara mereka juga ada yang sekadar kejar-kejaran dan tiba-tiba beberapa anak saling bercanda dibelakang saya, tak lama kemudian seorang diantaranya –sebut saja Adi- menangis persis dibelakang saya yang waktu itu sedang berdiri bersandar tiang penunjang kelas yang ada di depan pintu kelas playgroup dan Adi pun ditinggal teman-temannya.

Karena tangisnya cukup keras, ibu guru pun mendengar dan menghampiri sambil bertanya apa yang terjadi dengannya. Oh, ternyata seorang temannya –sebut saja Farhan- menyakitinya dan membuatnya takut. Memang Farhan ini badannya tergolong besar dibanding rekan-rekannya. Ibu guru kemudian menyuruh Adi untuk kembali bermain, namun Adi menolaknya lantaran dia takut oleh Farhan dan rekannya.

Kemudian Ibu guru tersebut memanggil Farhan dan rekannya yang ada di ujung kelas untuk mengajaknya bermain kembali. Tak disangka, Farhan dan rekannya datang dengan gentle ke ibu guru yang bersama Adi yang mengumpat dibalik Ibu guru. Seakan tahu kesalahannya, Farhan tanpa dimintapun segera minta maaf kepada Adi, Subhannallahu..!!! tanpa sungkan dan malu, Farhan menjabat tangan Adi dan menepelkannya dikening Farhan – seakan Adi adalah orang tuanya, atau orang yang lebih tua- dan langsung mengajak Adi bermain kembali. Adipun dengan senangnya menerima ajakan Farhan dan mereka terlihat asik bermain sampai bel masuk memanggilnya untuk kembali ke kelas.

Teman, kadang –bahkan sering- kelakuan kita kalah sama seorang Farhan, kita begitu malu mengakui kesalahan kita, baik kepada sesama atau pada Allah SWT. Kita lebih senang dengan hal-hal yang arogan, atau minimal keAKUan kita sudah membutakan mata hati kita untuk mengakui kesalahan.

Teman, salah satu hal terberat dalam hidup ini adalah meminta maaf dengan lapang dada, dengan kesungguhan dan dari hati terdalam. Walaupun kita hanya niat bercanda, tapi apakah lawan bercanda kita bisa menerimanya sebagai sebuah candaan?? bercandalah dengan sehat, bercandalah secara dewasa, agar orang bisa menerimanya sebagai sebuah hiburan dan motivasi tentunya.

Teman, salah satu kriteria hebat dalam hidup ini adalah sikap gentleman, yaitu sikap berani dalam segala hal, terutama berani mengambil sikap dalam mengakui kesalahan. Seorang wanita lajang membutuhkan pria yang gentleman, seorang istri membutuhkan suami yang gentleman, seorang bawahan membutuhkan pimpinan yang gentleman dan ratusan juta rakyat indonesia juga membutuhkan presiden yang gentleman.

Teman, semoga kita bisa mengambil pelajaran berharga dari seorang Farhan, walau usianya baru sekitar 4 tahun, tapi sikapnya menunjukan teladan yang hebat. Wallahualam !!

Categories: OPINI
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: